Selasa, 09 Agustus 2016

Kota Ini Penuh Belatung

Kota itu tampak seperti ibu yang sedang memasung anak kandungnya.

"Jangan ke mana-mana, Nak. Di luar, orang-orang lebih kejam dan gemar melanyak."

Sambil menyuapi bubur rayu, ibu terus berkisah. Tuturannya penuh pujuk empenak.

"Iya bu, di sini saja enak," katanya seraya menyeruput rayu bedegap.

Si anak senyam-senyum gembira memegangi pipinya yang makin gembil. Tangannya mulai berdaging. Rambutnya memanjang, hitam legam.
Tanpa sadar, kakinya membiru.
Hampir busuk.
Sebentar lagi, bernga dan belatung bercokol di pergelangannya.

"Jangan ke mana-mana, Nak. Di sini saja, aman."

Kota itu, Jakarta.

Penuh bernga dan belatung.

Senin, 04 Januari 2016

Untuk Pemenung



Pemenung, duduk di serambi. Mulutnya merayan, kepalanya penuh delusi. Udara yang berembus di sela rambutnya tak pelak dihiraukan. Di sudut matanya, ada kerisauan membuncah. Wajahnya sesat pusat. Mimpi yang datang dinihari, di bulan ke sembilan, seperti tak direstui. Restu bahkan tak datang dari pikirannya sendiri. Lantas membuatnya semak hati. 

Pemenung, duduk di serambi.
Sambil melihat matahari beralih posisi, menjadi saksi gelap yang datang dengan permisi. Tapi air wajahnya tak juga berganti. Lama memegang cangkir, tak seteguk air pun membasahi kerongkongan. Makin lama makin ganar. Tak satu pun tuturan dilontarkan. Dingin, sedingin hawa malam musim kemarau.

Pemenung, di mana pikiranmu bertualang? Adakah risak yang perlu kau ceritakan? Bahkan pada telingaku yang datang dinihari dan tak kau restui?

Rabu, 02 September 2015

Widji Thukul dan Nyawa-nyawa-nya yang Bergelora

Hilang rimbanya, tak tahu di mana jejaknya. Penyeru kebungkaman serikat buruh masa orde baru, Widji Thukul, hingga kini masih dihidupkan oleh karyanya. Tiga sajak berjudul Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok selalu erat menjadi pengiring orasi demo.

Masih terngiang barisan kalimatnya, “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!” membangkitkan semangat buruh memperjuangkan haknya.

Bernama asli Widji Widodo, tepat 52 tahun pada 26 Agustus lalu ia lahir. Sayangnya, ia tiba-tiba hilang pada kerusuhan 1998. Seruan-seruan pembebasan buruh dari penindasan terpaksa dibungkam begitu saja oleh ketidakpastian. 

Perlawanan terhadap penindasan orde baru telah menghilangkan jejaknya.
Pekan lalu, Fajar Merah, si bungsu dari pasangan Wiji Thukul dan Siti Dyah Sujirah melantunkan lagu Bunga Tembok  di Goethe Institute, Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa waktu berdekatan dengan peringatan hari lahir ayahnya, ia menyanyikan nyanyian yang dibungkam bersama beberapa musikus lain, seperti Rara Sekar, Jerinx 'SID', dan Dadang Pranoto.

Dalam sajak-sajak yang dinyanyikan, di wajahnya tersirat kemarahan. Kemarahan terhadap kejahatan HAM masa lalu dan kemarahan ketidakpastian yang telah merenggut kebersamaannya bersama sang ayah. Satu kalimat yang didengungkan Fajar Merah dari peristiwa hilangnya Widji Thukul, “kebenaran akan terus hidup”.

Kini, saat puluhan ribu buruh kembali ke jalanan ibu kota, menuntut hak dari bualan pejabat kerah putih yang berjajar di kursi pemerintahan, sesungguhnya nyawa Widji Thukul itu masih hidup. Sajaknya bergelora diorasikan oleh para orator.

Mati atau tidaknya Widji Thukul, di manakah kuburnya, dan seperti apa jasadnya, peringatan rakyat pada ‘penguasa pidato’ sejatinya tetap berdengung.

Selasa, 10 Juni 2014

Malam

Katakan sambil berlalu. Katakan dan mintalah aku untuk tetap tenang, menguasai gelap yang kau lukis tanpa kuas dan kanvas. Menghilanglah perlahan bersama malam yang jatuh tanpa kata. Aku menunggu dengan mata yang tetap tak terpejam meski kau bawakan perahu berayun dan sekantung bunga malam.
Kau lihat di sana matahari enggan terbenam? Bagaimana bisa ia terbenam jika sinarnya tertinggal. Seperti itulah aku. Tak sepertimu yang bisa melukis gelap tanpa kuas dan kanvas atau berkata sambil berlalu.

Hatiku tertinggal di perahu tak bersampan. Bergoyang-goyang di tengah garis laut tanpa batas, sedangkan gelap telah kau jatuhkan sebelum matahari memunguti sisa-sisa senja.

Selasa, 01 April 2014

Sam,

Sam, bukankah persoalan Tuhan tidak menjadi perkara sulit?
Kita menyebut-Nya sama, tidak seperti mereka di luar sana.
Tapi mengapa hati kita yang tak pernah sama?

Sabtu, 23 Juni 2012

Kanthil


Seorang wanita menuntunku pelan menuju kotak besar yang setiap malam menjadi tempat tidurku. Kotak yang cukup panjang namun tidak terlalu lebar ini sangat membatasi ruang gerakku. Aku pun harus berbagi tempat dengan benda-benda yang tergantung didalamnya. Benda-benda itu mirip dengan sesuatu yang selalu melekat di tubuhku. Wanita itu menutup kotaknya rapat-rapat setelah aku duduk diam. Aku tak punya cara untuk memberontak ataupun meneriaki wanita itu agar membukakannya ketika aku mulai bosan berada di tempat pengap ini.  Aku tak bisa keluar sebelum matahari terbit.

Aku melihat semua hal yang terjadi di luar kotak ini dari lubang-lubang udara yang ku buat sendiri. Setelah aku melihatnya, jari-jariku asyik mencorat-coret kertas yang semula tampak kosong. Apa yang kulihat selalu kutuangkan pada selembar kertas yang tersedia di tempat ini.
Kreekkkkk jeglek’
Suara itu muncul bersamaan dengan kedatangan seorang laki-laki separuh baya berpawakan tinggi besar. Dia selalu datang setiap malam.
“Selamat malam Jeng ayu…” Sapa lelaki itu.
Ealah mas, kok ya lama banget to yo datangnya, tumben.” Jawab wanita itu setengah terkejut.

Tanpa berbicara lagi, Ia mendekatkan dirinya kearah wanita berparas ayu itu, menunduk,  kemudian mendekapnya erat. Setelah beberapa detik, laki-laki itu melepaskan pelukannya.  Ia menatap sosok wanita yang sedari tadi berdiri didepannya dengan penuh kekaguman. Melalui tatapannya, tampak hasrat luar biasa yang tersimpan dalam dirinya. Beberapa detik kemudian, wajah mereka berdekatan, bibir mereka saling beradu. Hatiku bergejolak. Amarahku seperti tersulut. Jari-jariku mulai bekerja.

            Mataku sedikit terbuka ketika kudengar suara pintu kotak ini menganga lebar. Kulihat wanita itu berdiri tegap didepanku. Tangannya menepuk-nepuk pundakku.
“Til, Kantil, bangun! Emak sudah beli gudeg. Ayo sarapan bareng Emak!”
Aku mengangguk pelan. Wanita itu membantuku berdiri dan menuntunku berjalan keluar meninggalkan kotak ini.

            Dia duduk didepanku. Disodorkannya sepiring nasi penuh lauk berwarna coklat seperti yang selalu ku santap setiap pagi. Aku menyendoknya pelan, kemudian mengunyahnya perlahan. Sesekali kulirik wajahnya. Matanya tampak sayu,  keriput-keriput diwajahnya samar-samar mulai muncul, bibirnya menghitam, rambutnya tampak berantakan karena tak disisir. Beda dengan apa yang kulihat semalam.
“Til, Mak sudah lihat gambar-gambarmu. Bagaimana bisa kau menggambar semua itu?”
Aku menunduk lesu. Entah mengapa kata-kata wanita itu seperti menyulut kembali amarahku.
“Til, kamu mau ndak Mak sekolahkan di institut seni? Mak yakin mereka pasti mau menerimamu.”
Mataku terbelalak. Gambar itu satu-satunya hal yang dapat kulakukan sebagai bentuk protesku terhadapnya, dan kini ia anggap sebagai seni yang indah. Kini amarahku semakin menjadi.
“Soal biaya gampang Til. Nanti Mak minta ke Om Dalud.”
Tanganku mengepal, kemudian kulempar sendok yang sedari tadi ku genggam ke arah wanita itu. Seperti belum puas, tangan kiriku menghempaskan piring yang masih penuh dengan nasi beserta lauknya.
‘Pyaaaarrrrrr’
“Kamu tu kenapa?” kata wanita itu penuh amarah.
“Kesurupan?” tanyanya lagi.
Mataku terbelalak, tanganku memukul-mukul semua benda yang ada di hadapanku.
“Kamu marah sama Emak?” tanyanya penuh dengan amarah.
“Dasar goblok! Bisu! Edan! Emak nggak pernah minta punya anak cacat seperti kamu. Njalukmu ki opo? ” teriaknya.
Kata-katanya kini benar-benar membuat telingaku sakit. Hatiku pilu. Aku setengah berlari. Langkahku mendekat pada sebuah kotak besar yang menjadi sahabatku setiap malam. Kurauk semua kertas penuh gambar yang tersebar didalamnya. Dengan langkah setengah pincang, ku hampiri wanita itu. Kurobek-robek semua kertas penuh gambar itu dihadapannya.
“Kamu marah sama Om Dalud?” tanyanya lagi.
Amarahku semakin tak terkendali. Kudorong tubuh wanita itu sekuat tenaga sampai terjatuh.
           
            Wanita itu mencoba berdiri. Dengan langkahnya yang sedikit terhuyung-huyung, ia mendekat.
“Kamu iri sama Emak?” tanyanya sinis.
“Kamu mau?” tanyanya lagi sambil mencekram wajahku.
Tangannya kini melucuti semua benda yang menempel ditubuhku. Aku memberontak hebat. Tubuhku dipeluknya erat. Aku menggeliat, mencoba melepaskan pelukannya yang membuat dadaku sesak. Tanganku memukul-mukul tubuhnya.
plaaaak’
Dia menampar pipiku. Sakit sekali rasanya.
“Ini pelajaran supaya kamu ndak kurangajar sama Emak!” katanya.
Aku ingin berlari atau setidaknya teriak. Dekapannya yang terlalu kuat membuatku sulit bergerak. Wanita itu menggigiti tubuhku sambil sesekali menciuminya. Ditusuk-tusukannya ujung sendok kedalam lubang kemaluanku. Tusukannya cukup dalam. Aku tidak bisa menggambarkan sakit yang luar biasa itu. Air mataku mengalir hebat.
 “Duh Gusti, Kantil pengen mati.” Gumamku dalam hati.